- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Masa Kecil dan Kenangan Bulan Ramadhan



Pernah teringat masa kecil? Random aja, gitu. Random momennya, juga random kenangannya. Kenangan masa kecil yang sering berkelebat di memori saya adalah kenangan bulan puasa dan lebaran. Buat saya masa itu istimewa karena beberapa hal.

Waktu itu, masa puasa biasanya sekolah diliburkan. Kami (saya dan adik) otomatis punya masa libur panjang selain kenaikan kelas. Tergantung siapa menterinya juga, sih. Kadang dua minggu sampai habis lebaran. Kadang total sebulan penuh.

Biasanya kalo habis subuhan di musholla komplek, saya dan teman saya jalan pagi sebentar. Kadang ketemu anak-anak dari komplek sebelah.  Semacam gebetan gitulah. *uhuk* Kalo habis tarawih, suka ngobrol lamaaa sampe malem. Oiya, dulu tuh blom ada istilah ngabuburit. Jadi gak ada tuh namanya bocah-bocah boncengan bertiga ngetem di pinggir jalan di jam-jam sebelum magrib. Atau pasar kaget yang sampe bikin gang-gang kecil macet.

Karena liburnya lama, saya suka jualan kecil-kecilan, lho. Buka dagangannya di teras rumah pakai alas koran atau tikar. Yang dijual macam-macam. Ada stiker, baju-bajuan, kartu sampai menyewakan majalah Bobo dan komik. Gak peduli banyak yang beli atau engga, lapak dagangan saya pasti rame karena yang datang juga sekalian main-main. Barang yang untuk dijual saya beli dari abang-abang mainan.

Kalau momen berbuka di rumah sih biasa aja. Ibu saya masak seadanya dan kami makan bersama. Yang seru itu kalo lagi belanja menjelang lebaran. Kadang ke pasar, kadang ke mall. Tergantung apa yang lagi dicari Ibu. Tapi mau di manapun belanjanya, kami yang ikut hari itu pasti hanya puasa setengah hari. Pokoknya hari itu legal buat batalin puasa, deh. Hahahaha.

Beberapa hari sebelum lebaran biasanya Ibu bikin kue-kue kering. Jenis kuenya standar khas kue lebaran lah. Ada nastar, semprit dan kastengel. Tapi tradisi ini cuma sampai saya SMU aja. Setelah saya kuliah ke Jogja, Ibu makin jarang bikin kue. Mungkin males kalo gak ada partnernya, ya (baca: saya).

Selain itu, momen lebaran bagi anak-anak jadi lebih menyenangkan karena dibelikan baju baru ya, kaann… Heboh deh kalo udah bebelian baju ini. Tapi Ibu saya gak suka pergi untuk belanja baju di bulan puasa. Karena pertokoan manapun pasti rame dan sumpek orang-orang. Sampai sekarang, Ibu masih suka nggerundel kalo harus pergi belanja baju di bulan puasa. Sementara saya seneng-seneng aja tuh, wkwkwkwk.

Di malam takbiran, saya kadang ikut keliling sama teman-teman. Rame, lho. Kita kayak pawai gitu, ada yang bawa bedug kecil juga. Oiya, dulu suka bikin obor dari batang pohon (atau daun?) pepaya, lho. Jaman itu empang di belakang komplek masih ada dan beberapa rumah juga masih punya pohon pepaya. Cara bikinnya itu, batang pohon pepaya ditebas sampai dekat pohonnya. Bagian daunnya dibuang. Batang yang dalamnya kopong itu diisi sedikit minyak tanah lalu ujungnya disumbat dengan kain bekas. Kain bekas itu lalu dibakar. Jadilah obor alami.

Kadang mainan petasan juga! (credit pict: here)

Waktu saya kecil jaman lebaran jarang sekali diajak mudik ke Yogya. Seringnya pergi ke Yogya itu ketika liburan sekolah. Jadi soal kenangan saya mudik saat lebaran terbilang tak ada. Ketika hari H lebaran biasanya keliling untuk halal bihalal. Kemudian lanjut ke beberapa rumah saudara bersama. Kudapannya ya itu-itu saja, ketupat, opor, sambal goreng ati, dan sebagainya. Setelah menikah saya baru sadar bahwa tradisi makan ketupat itu tak banyak yang menjalaninya. Di Yogya dan rumah mertua atau ipar saya tak terbiasa bikin ketupat di hari Lebaran. Jadi ada alasan untuk saya kangen pada rumah ketika Lebaran tiba heheheh.

Pascalebaran biasanya libur sekolah masih panjang dan kami tiap hari hanya di rumah menanti tamu atau saudara berkunjung. Nah saat seperti itu kami sering mengudap suguhan untuk tamu seperti kue-kue dan minuman bersoda yang selalu ada ketika lebaran. Ada satu minuman yang sering dibuat Ibu atau Bapak saya, yaitu sirup jeruk yang dicemplungin kacang bawang. Cara minumnya tentu saja harus dengan sendok untuk mengangkut kacang bawangnya. Ini seger beneran, loh. Seger plus gurih gitu, lah. Belum lagi kolang-kaling bikinan Ibu saya yang selalu ditunggu teman saya yang umat Hindu. Kalau lebaran pasti dia main ke rumah dan mencari kolang-kaling dingin ini.

Seperti kenangan baik lainnya, mengingat-ingat peristiwa menyenangkan terkadang memunculkan perasaan rindu dan ingin “pulang”. Duh, jadi rindu Ramadhan.[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers